Tampilkan postingan dengan label TulisanKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TulisanKU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2011

KESEDERHANAAN YANG MEWAH
Tersimpan di balik deskripsi,tersembunyi di balik kabut yang tebal menguatkan arti kata sebuah penasaran. Bersikap biasa, berbicara biasa, menatap biasa, berdandan biasa, memuji dengan cara yang biasa, menjadikan buaian kata biasa yang terakumulasi berubah menjadi kata luar biasa. Luar biasa untuk memiliki sebuah kesederhanaan, ditengah keramaian, diantara glamournya pesta, membuatnya menonjol dan mendapat perhatian walaupun tanpa mencari perhatian.
Sikap apa adanya melambangkan kejujuran, pancaran diri yang mencerminkan isi hati tanpa kepura-puraan. Entah mahluk itu sadar atau tidak, dia telah menorehkan prestasi yang memaksa buah pikiranku memberikan prestise padanya.

Berani, tampil beda, unik, langka, itulah trendnya, yang menjadi tipping dalam diri individu tersebut.

Rangkaian kata yang terucap terungkap polos, saat telingaku memberi respon terasa pas, tidak ada yang berlebihan, mungkin bagi orang lain itu kekurangan namun dari sudut aku memandang itu adalah kelebihan, namun terkadang emosimu sulit diprediksi, membuat setiap tindakan dilakukan dengan hati-hati, terkadang ada juga senyum terpaksa yang kau tampilkan.

Saat ku melihat, melakukan penilaian, menditeksi setiap reaksi, keingian untuk memperhatikan itu muncul dan muncul lagi, aku memandang, menatap dan membayangkan, hmmm…. Tidak berubah.
Sebuah pribadi yang jarang aku dapatkan , terpatri pada pribadi yang tergolong baru ku kenal… mungkin itu juga penyebab dangkalnya hasil yang ku dapat, mungkin masih dalam palung pribadimu.

BAHASA DUNIA

BahasaDUNIA

Pengantar
Manusia hampir tak pernah memanfaatkan kemerdekaan yang mereka miliki, yaitu kemerdekaan berpikir dan bertindak. Sebagai gantinya mereka selalu menuntut kemerdekaan untuk berbicara. Mereka menganggap dengan berbicara mereka akan memenangkan pertarungan… tidak…., sebenarnya mereka baru saja mengobarkan perang pembuktian yang diwarnai pergelutan tindakan, yang pemenangnya diperoleh tergantung dengan kegigihan (pembuktian untuk apa saja), karena yang telah keluar dari mulut tidak berarti apa-apa tanpa sebuah tindakan.
Berbicara memang menjadi trend serta ukuran dewasa ini, retorika yang sangat disukai pendengar, yang penuh dengan metafora menjadi candu, membingungkan, mengecoh kita pada keabu-abuan.
Rayuan yang komprehensif mengabaikan tindakan serta ketulusan seseorang, menggadaikan rasa percaya yang sesungguhnya. Saat ungkapan itu terucap secara spontan komitmen dibuat, entah oleh yang satu atau yang satunya lagi, yang kemudian mempengaruhi pikiran mahluk untuk konsisten pada komitmen itu, seringkali memaksakan diri, kemudian memberangus kemerdekaan untuk menentukan pilihan yang sebenarnya (bisa dibilang terperangkap dalam teori).
Banyak yang tersingkir menghadapi fenomena ini, hanya karena mereka tidak berkata, tidak mampu menjadi komunikator yang baik sehingga feedback dari komunikan menjadi negatif terdesak oleh hambatan-hambatan….

Bahasa itu…
Padahal ada sebuah media, bahasa yang sudah lama ditinggalkan peradapan ini, …jiwa dunia.. yang sekarang ingin kupahami, sedang kucari maknanya.

1. “Kalau seseorang sunguh-sungguh menginginkan sesuatu seisi jagat raya bahu membahu membantu orang itu mewujudkan impiannya”
Namun sudah sedikit yang percaya hal itu, berangsur punah bersama perjalanan waktu. Hmmmmm….. Konsep yang sangat sulit dipahami ini akan ku analogikan dengan sub-makna yang lebih mungkin untuk dipahami.

Cobalah masuk ke dalam pusaran ini: Saat jiwa bergolak di dalam diri, ketika mata saling menatap, memperhatikan, sebuah kesadaran yang paling penting dari bahasa yang ada di seisi dunia ini, bahasa yang sebenarnya bisa dipahami siapapun di muka bumi, di hati mereka, bahasa yang lebih tua daripada manusia, lebih kuno dari pikiran serta logika, yang menjadi penyebab kita Tuhan ciptakan, sesuatu yang meletupkan daya yang sama manakala dua pasang mata beradu pandang. YUPZ… seringkali kita menyadari arti yang ada hanya dengan beradu pandang, sorot mata yang terekam memberikan arti yang sudah kita pahami, sudah tau jawabannya, hanyasaja kita sekarang tidak lagi peka dengan pertanda-pertanda itu, pertanda-pertanda yang maktub Yang selalu terjadi pada episode-episode kehidupan, dimana dia selalu mengetuk namun jarang pintu itu dibukakan baginya.
Itulah pertanda-pertanda yang sering kita lupakan dimakan keegoisan, status, latar belakang, derajat, kemapanan, kontingen, suku, pulau, serta gengsi yang sempit, sehingga diabaikan dan bahasa itu tidak lagi berarti apa-apa.
CINTA (yang merupakan sub-makna dari bahasa dunia, yang masih cukup relefan dengan masa ini)….. terlalu sempit kita memaknainya belakangan ini, dimana kita terlalu egois memberikan arti, padahal kita tidak tahu, berabat-abat yang lalu arti kata itu berbeda(lebih luas) daripada apa yang kita maknai sekarang, Kata itu selaras dengan sebuah penciptaan kehidupan, dengan jiwa dunia, yang tidak mudah dimengerti dan tidak perlu dijelaskan, karena itu rahasia yang aku sendiri tidak bisa memahaminya.

“Sebab dimana hatimu brada disitulah hartamu berada” Kalimat multi tafsir, yang tidak bisa diartikan hanya dengan membaca, untuk itu perlu direnungkan agar kau bisa menemukan hartamu itu.

Makin bingung….???????
Refleksi: Seorang dokter yang bijaksana berkata kepada saya, “Saya telah melakukan praktek dokter selama 30 tahun, dan saya telah menulis banyak sekali resep. Tapi lama-kelamaan saya mendapatkan pelajaran, bahwa untuk sebagian besar penyebab penyakit manusia maka obat yang terbaik adalah kasih sayang.”
“Bagaimana jika obat itu idak manjur?” tanya saya???????.
“Lipat duakan dosisnya,” jawabnya.

2. Begitu juga dengn harapan… harapan itu menurutku seperti jalan setapak di desa, yang apabila semakin banyak orang melaluinya maka jalan itu ada, namun bila tidak ada lagi orang yang melewatinya maka hilanglah jalan itu tertutup rumput dan belukar, maka tidak bisa dilalui dan jejaknyapun ikut menghilang.
Hal seperti di ataspun seringkali kita abaikan, orang lebih cenderung melihat apa yang ingin dilihat, bukan yang sebenarnya terjadi. Disaat ada daya yang menghendaki kau mewujudkan takdirmu kau akan diberi pertanda-pertanda yang tinggal kau baca dan artikan, namun pilihan dan keputusan ada di tangan kita, apakah diikuti atau diabaikan….
”Seperti saat seorang anak bercita-cita menjadi petani, kemudian ditengah jalan untuk mewujudkan, orang menganggap bahwa petani bukanlah pekerjaan yang terhormat, lalu dia memutuskan untuk menjadi polisi yang dianggap orang banyak lebih terhormat”
Maka dengan ketidakmampuan untuk membaca pertanda-pertanda, untuk mengartikan sub-bahasa dunia, kita tidak lagi menemukan harapan, karena jalan itu tidak kita lalui lagi, teralihkan dengan anggapan orang dan semak belukar.

penutup
Aku seringkali hanya melihat yang ingin dilihat, bukan yang sebenarnya terjadi, ketidakmampuan itu yang membuatku selalu mencoba memahami segala buah pikiran, buah pikiranku inipun bukan karena aku mengetahui sesuatu, tetapi tercipta karena aku tidak mengerti sesuatu itu, ide dan konsep yang abstrak serta tidak beraturan di atas memang membingungkan, namun dua sub-bahasa kurasa mampu membuka sedikit jalan. Perlu diingat makna sebenarnya tidak terdapat pada kata-kata namun pada pikiran orang yang membaca, dan aku percaya setiap orang memiliki pemaknaan yang berbeda, sehingga aku dengan sengaja menyamarkannya, membiarkan sang imaji melayang di sela-sela pikiran…
Perasaan Bingung, menciptkan penasaran, yang membuat kita ingin mengetahui, untuk kemudian membuka jalan bagi pemahaman.
Selama ini sedikit yang bisa memahami jalan pikiranku yang cenderung berbeda, padahal aku hanya mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang lain atau dari berbagai sudut pandang. Tapi percayalah kadang2 sesuatu itu tidak perlu dimengerti, cukup dirasakan.

Maaf tulisan alakadarnya ini sangat tidak komprehensif, waktu yang sempit kupilih sebagai penyebabnya.
Selain itu gaya bahasaku mungkin merupakan masalah juga, yang kupilih sebagai alasannya.
Mungkin juga terlalu sedikit, erobik besok yang kupilih menjadi pembenarannya
Terimakasih mendorongku untuk menulis, kupilih sebagai kesimpulannya.


Selamat Berimajinasi.

Kamis, 03 Maret 2011

Membaca=Bingung

Membaca=Bingung
MEDIKA HERMAWAN


Ada tren yang bisa dibilang sedang menjamur di kalangan penulis Indonesia, yaitu “membuat pembaca Indonesia bingung dengan tulisan yang dibuatnya”, entah karena pengetahuan yang berlebih, atau kemampuan intelektual bangsa ini yang dinilai sudah mumpuni sehingga tulisan-tulisan dalam litelatur masa ini terasa sangat berat untuk dilahap. Contoh kasusnya adalah penggunaan kata serapan dalam setiap karya tulis, yang seringkali menyulitkan, sehingga memerlukan energy dalam jumlah yang besar untuk memahaminya dan mengetahui kulit luarnya saja……….
Contoh:
“Kepemimpinan berurusan dengan dinamika sistem, mekanisme, atau masinesasi sosial dan orientasi humanis dalam seluruh hakikat serta aspek kepemimpinan.
Faktor ini sangat menekankan tentang unsur manusia dan orientasi kemanusiaan dalam lingkup dimana kepemimpinan ini dijalankan, yang menentukan segla sesuatu dalam kepemimpinannya.”

Tulisan seperti di atas memang terlihat berbobot, tergambar bahwa orang yang menulis memiliki pengetahuan yang luas, namun apalah artinya jika maksud yang hendak disampaikan tidak tersosialisasi dengan baik, bahkan membuat pembaca bingung karena akan muncul tafsiran dengan berbagai versi yang berbeda, sehingga tidak heran apabila minat baca terhadap litelatur perkuliahan sengat rendah, karena pembaca cendrung memilih bacaan yang lebih ringan……….
Kata serapan yang seharusnya menjadi sarana untuk memudahkan kita memahami kata-kata asing malah menimbulkan permasalahan-permasalahan kebahasaan, hal tersebut dikarenakan Banyak kata-kata yang diserap secara utuh tanpa melalui penyesuaian dalam kaidah di dalam penulisan (Anomali), diperparah lagi sekarang muncul trend menambahkan ‘sasi’ pada kata-kata yang tidak tepat.
Contoh:
Kata serapan dari bahasa Inggris yang aslinya berakhir dengan "tion” yang diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan mengalami penyesuaian sehingga berubah menjadi "si" diakhir kata berlangsung dengan frekwensi sangat tinggi. kenyataan ini melahirkan masalah kebahasaan yaitu munculnya akhiran sasi yang melekat pada kata-kata yang tidak berasal dari bahasa Inggris, seperti:
Islamisasi - islam + sasi
kristenisasi - kristen + sasi
neonisasi - neon + sasi
polarisasi - pola + sasi
jawanisasi - jawa + sasi
Epenisasi - Epen + sasi
Hmmmmmmmmmm……………………………………..

ada baiknya untuk memudahkan pembaca memahami tulisan-tulisan ilmiah, bahasa yang digunakan dibuat seperti novel dengan alur yang dibumbui metafor-metafor, jadi kita bisa membaca tesis,skripsi,LA,berjam-jam tanpa bingung sekaligus mengerti isinya………….

M-10.BKS

Rabu, 02 Maret 2011

People power

People power
Oleh: Medika Hermawan
Kemampuan rata-rata masyarakat indonesia dalam menggunakan bahasa Internasional (bahasa Inggris) harus diakui memang masih rendah, untuk mengartikan kalimat saja sampai berkeringat, apalagi berbicara, danternyata saya juga termasuk dalam orang-orang seperti itu.
Dewasa ini kehidupan bernegara kita diramaikan dengan berbagai warna, banyak masalah, banyak kejanggalan, banyak ketidak adilan dst, dst………….. masyarakatpun semakin berwarna dalam menanggapinya, demo dan protes seperti sarapan bila kita melihat berita setiap harinya, yang kebanyakan berujung pada peristiwa anarkhis, anrkhis dan anarkhis……… sehinga timbul pertanyaan; apakah ini yang dinamakan people power (buah demokrasi) dimana rakyatlah yang menjadi pemegang kekuasaan tertinggi.

Melihat fakta di lapangan, People power di Indonesia dapat diartikan sebagai masyarakat, rakyat, warga negara yang memiliki tenaga yang kuat, otot yang besar , tiap-tiap orang memiliki power yang mampu menghancurkan apa saja yang menjadi penghambat baginya. Sehingga power tersebut digunakan untuk melakukan aktivitas-aktivitas anarkhis, dengan merusak, menghancurkan, membakar, sebagai bentuk ketidakpuasan.
Mungkin pendapat ini tidak berdasar, tapi kita juga tidak bisa menyangkal, kejadian di mana-mana telah membuktikan bahwa sesungguhnya bangsa kita bangsa pendendam.
Kita telah menyalahartikan makna people power yang sebenarnya……
Masyarakat masih menggunakan cara-cara tidak terpuji dalam menyampaikan aspirasi, menandakan belum kreatifnya bangsa ini, padahal masih banya cara lain yang lebih manusiawi, namun para petinggi bangsa inipun tidak memiliki cara yang kreatif untuk menampung atau memfasilitasi aspirasi masyarakat, tidak memiliki kepekaan terhadap gejolak-gejolak yang terjadi pada rakyat, sehingga kebijakan yang diambil seringkali tidak tepat, solusi yang diberikan tidak mampu mengatasi permasalahan.
Kita memang malas untuk belajar, malas untuk saling memahami, selalu merasa bisa, padahal yang diperlukan adalah bisa merasa.

Hidup yg ku ingin

M-H
Mungkin atau memang hanya aku yang tahu bahwa aku ingin kehidupan ini seperti apa yang terbayangkan di kartun-kartun dan film2 yang menjadi idolaku di masa-masa aku tidak memikirkan kehidupan nyata, dan ketika kini ku sadar, aku mencoba mewujudkannya, ingin menjadikannya nyata, dapat dirasakan dan terus berlangsung selama yang aku kehendaki.
Membayangkannya selalu membuat aku berusaha mempengaruhi pikiranku sendiri agar berusaha mewujudkan bayangan itu, yang secara otomatis membuatku bergairah setiap harinya. Seri-seri kartun yang selalu ditayangkanpun memanipulasi otakku bahwa kehidupan itu perlu dinikmati dalam durasi 24 jam, dengan aksi-aksi yang luar biasa dan tidak mudah dilupakan, sehingga mengontrol langkah kakiku ke arah pertualangan yang hanya aku dapat merasakannya.
Begitu juga setiap hari yang kulalui bisa menyamarkan aku menjadi siapa saja, pribadi yang berbeda, seperti aku sedang melihat diriku dari sebelah kanan yang sedang melihat kiri.
Dalam setiap karakter kehidupan aku mampu mempengaruhi pikiranku dengan cara membayangkan apa yang kuingini untuk merasakan berada di posisinya, bagiku memang merupakan hal yang luar biasa dapat merasakan hal tersebut (walaupun tidak selalu berhasil) kadang juga aku terjebak karena terlalu fokus dengan pemikiran-pemikiran rasional tentang fakta kehidupan yang sebenarnya,
yang katanya nyata adanya, sehingga bingung yang mana metaafora. akhirnya aku terjebak di antara keinginan, mimpi, cita-cita, hayalan, fakta, kondisi, keadaan, perasaan, dan dunia lain yang terasa sedikit aneh tapi lumayan menantang……………

Selasa, 01 Maret 2011

BERAKIT-RAKIT KE HULU

KATA ORANG BIJAK
OLEH: MEDIKA HERMAWAN
Memang benar kata orang bijak, awal yang pahit seringkali berujung manis…. Seperti kata pepatah yang juga masih dibilang oleh orang bijak, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian….. pepetah ini sangat akrab dengan manusia Indonesia dan familiar pada setiap tingkatan umur dari yang kecil, muda, dewasa sampai yang tua, mengapa demikian…???????

karena setiap orang dalam kondisi apapun selalu merasa kurang. kurang inilah, kurang itulah, sehingga dengan sepihak menyatakan dirinya berada dalam keadaan sulit (sakit) anggapan sulit ini tentunya ditetapkan dengan standar sendiri, dengan harapan dengan pepatah itu kesulitan yang didapat hari ini akan berubah menjadi kesenangan di kemudian hari.
Saat kecil sampai tua kebanyakan kita selalu mengungkapkan pepatah itu "
berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian" yang jadi pertanyaan, kapan kita menjadi bersenang-senang...????? kalau pada waktu kecil kita bersakit-sakit, remaja juga tetap bilang pepatah itu, bahkan sampai tua tetap bersakit-sakit, poin bersenang-senang yang menjadi harapan seakan tidak pernah terwujud saat orang-orang tetap menyebutkan pepatah itu, maksud kata kemudian tidak dijelaskan secara pasti kapan terjadi, apakah saat kita muda, atau saat tua sedangkan kita saat tuapun tetap menyebutkannya……
Ketidakpstian, itulah yang menjadi trendnya…
celakanya makna ketidakpastian itu yang paling disukai pada saat ini, sehingga seluruh komponen bangsa ini sealu menerapkannya, setiap tindak tanduk dibuat tidak pasti agar tidak terungkap kesalahannya.Pikirkan saja; mulai dari visi dan misi negara, mengarah kepada target yang tidak pasti dan tidak realistis, ditambah lagi kata-kata surga yang membumbuinya…. Dan saya rasa rata-rata, sebagian besar daerahpun menerapkan konsep yang seperti itu dalam visi-misinya…. Entah karena hal yang demikian easy listening, sehingga mudah membuai siapa saja yang mendengar, atau ketidakmampuan untuk menelaah bahwa perwujutannya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Dalam bidang olahraga, target yang hendak dicapai tidak jelas dan terukur, terkesan untung-untungan
(saya rasa tidak perlu contoh, karena perlu banyak energi untuk menyajikannya). TITIK