Selasa, 01 Maret 2011

BERAKIT-RAKIT KE HULU

KATA ORANG BIJAK
OLEH: MEDIKA HERMAWAN
Memang benar kata orang bijak, awal yang pahit seringkali berujung manis…. Seperti kata pepatah yang juga masih dibilang oleh orang bijak, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian….. pepetah ini sangat akrab dengan manusia Indonesia dan familiar pada setiap tingkatan umur dari yang kecil, muda, dewasa sampai yang tua, mengapa demikian…???????

karena setiap orang dalam kondisi apapun selalu merasa kurang. kurang inilah, kurang itulah, sehingga dengan sepihak menyatakan dirinya berada dalam keadaan sulit (sakit) anggapan sulit ini tentunya ditetapkan dengan standar sendiri, dengan harapan dengan pepatah itu kesulitan yang didapat hari ini akan berubah menjadi kesenangan di kemudian hari.
Saat kecil sampai tua kebanyakan kita selalu mengungkapkan pepatah itu "
berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian" yang jadi pertanyaan, kapan kita menjadi bersenang-senang...????? kalau pada waktu kecil kita bersakit-sakit, remaja juga tetap bilang pepatah itu, bahkan sampai tua tetap bersakit-sakit, poin bersenang-senang yang menjadi harapan seakan tidak pernah terwujud saat orang-orang tetap menyebutkan pepatah itu, maksud kata kemudian tidak dijelaskan secara pasti kapan terjadi, apakah saat kita muda, atau saat tua sedangkan kita saat tuapun tetap menyebutkannya……
Ketidakpstian, itulah yang menjadi trendnya…
celakanya makna ketidakpastian itu yang paling disukai pada saat ini, sehingga seluruh komponen bangsa ini sealu menerapkannya, setiap tindak tanduk dibuat tidak pasti agar tidak terungkap kesalahannya.Pikirkan saja; mulai dari visi dan misi negara, mengarah kepada target yang tidak pasti dan tidak realistis, ditambah lagi kata-kata surga yang membumbuinya…. Dan saya rasa rata-rata, sebagian besar daerahpun menerapkan konsep yang seperti itu dalam visi-misinya…. Entah karena hal yang demikian easy listening, sehingga mudah membuai siapa saja yang mendengar, atau ketidakmampuan untuk menelaah bahwa perwujutannya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Dalam bidang olahraga, target yang hendak dicapai tidak jelas dan terukur, terkesan untung-untungan
(saya rasa tidak perlu contoh, karena perlu banyak energi untuk menyajikannya). TITIK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar